Saatnya Berdiri


Malam ini malam terakhir saya melaksanakan libur panjang setelah beberapa minggu saya libur dan sering pulang malam untuk begadang bersama kolega dan teman sejawat (gayane…)sementara paginya langsung di gembrang-gembrong simbok. Insyaallah itu besok pagi tidak akan terjadi lagi, Bismillah. Saya berpikir, ini hari saya terakhir malas2an, besok tak ada yang namanya badan saya kedinginan lagi, karena begitu sampai rumah saya akan disibukan untuk istirahat,hehe..Semester2 kemaren jujur saya kurang memperhatikan dan kurang mengasah apa yang saya sukai termasuk apa yang disebut Mikrokontroler, baru semester 5 saya sedikit menekuninya. itupun langsung terhenti begitu lomba RUM dari LAPAN berakhir. Saat KRS-an kemaren saya membatalkan matakuliah Embedded System dan menambahkan Instrumentasi II dikarenakan Embedded System ingin saya ambil untuk tahun depan. Bisa dikatakan mencari apa yang namanya IP ditempat saya memang tergolong sulit dan sukar. Tapi bagaimanapun masa depan saya akan saya mulai dari sini, dari jerih payah ngalor-ngidul setiap hari. Haduh, terasa berat memang jika saya melihat prestasi teman-teman saya yang kampusnya terdapat remidi, bahkan ada SP. Aih..kemaren-kemaren saya tersandung masalah dengan sesuatu yang saya bawa sejak SMA yaaitu pacaran, Nawaitu saya ingin menggapai masa depan saya dulu, sebelum terpikirkan oleh apa yang dinamakan wanita dan keluarga. Menurut saya pacaran hanya membuka jalan kita untuk melakukan dosa, terlebih zina (sok alim). Setelah maghrib saya mulai browsing dikamar dan saya menemukan beberapa blog yang kebetulan saya menemukan apa yang disebut dunia kerja dengan salary yang menggiurkan. Digaji dengan dollar dan dikasih fasilitas oleh perusahaan, belum yang lain, pertanyaan besar saya yang muncul adalah.APAKAH SAYA BISA SEPERTI MEREKA. Mulai yang bekerja di Telecom hingga mereka yang bekerja di bidang Oil dan Gas. Jujur saya lebih menarik dan ingin bekerja pada bidang yang berhubungan dengan Oil dan Gas. Sebut saja Chevron, Conoco, dan masih banyak lainnya. Setelah itu saya bertanya kepada rekan saya yang sedang Online saat itu. Dari 4 teman saya 2 diantaranya sama dengan yang saya pikirkan. 2 diantaranya ingin ke Bank, maaf kebetulan dia Ekonomi.hehehe..
Lantas teman saya bertanya mengenai keadaan saya, saya bilang “Ini hari terakhir saya liburan, besok dah kuliah, dan semester kemaren-kemaren saya kurang optimal rasanya, tapi saya males nis. Masih banyak masalah dan problem yang belum terselesaikan.”
Mulai masalah ngurus KKN yang teman-teman kurang komunikasi sehingga menggantungkan hanya pada segelintir orang, hingga masalah akademik perkuliahan yang trouble. Tuhan apakah kamu nggak bosan memberikan ini semua kepada saya?Huff, jujur saya capek sekali dan merasa malas, tapi bagaimanapun saya harus mengakhiri rasa malas saya hari ini. Lebih baik mengkhiri masa malas saya hari ini daripada seumur hidup saya menyesal.
Saya kembali teringat beberapa perkataan dan nasihat bijak, Memang sebuah penyesalan itu selalu datang dibelakang,datang disaat kita tahu hal yang seharusnya tidak kita lakukan kemaren. Namun menyesali penyesalan itu bukan sebuah solusi yang tepat dan cerdas. Lantas langkah apa yang harus kita ambil? saya bertanya pada diri saya sendiri, Nomer satu adalah sikap antisipatif, jangan sampai kita menyesal untuk kedua kali, nomer 2 adalah memahami agar kita tidak usah menyesali apa yang telah kita lakukan, namun lebih pada penyikapan kegagalan tersebut agar menjadi lebih maju dan nggak gagal lagi. Lha itu yang sulit.Menyikapi sesuatu kegagalan agar bisa bangkit berdiri.
Dalam hati saya,Bismillah,saya bisa melakukannya.

2 responses to “Saatnya Berdiri

Comments are closed.