Thanks For UGM


Universitas Gadjah Mada, tepat saat aku menulis artikel ini aku mulai berpkir, kenapa Gadjah Mada begitu “wah” dimata masyarakat?Namun sayang comment beberapa masyarakat adalah “Wah, mahal ya mas.” Bukan wah luar biasa. Tepat disebelah selatan dari Kantor Pusat UGM saya menulis artikel ini, tepatnya diantara Gedung Pusat UGM dan GSP. Masih segar ingatan saya saat kita mahasiswa yang peduli oleh mahasiswa yang terdzolimi berdesak-desakan dengan para bapak resimen satpam di depan GSP, saat itu tepat saat Dies Natalis UGM. Dibagian depan pintu GSP terpampang congratulation buat UGM dari salah satu kabinet SBY namun kata-katanya sumbang, seakan-akan itu atas nama pribadi. Yaiyalah, khan istrinya Pak Dibyo adalah Ibu tersayang kita, Ibu retno, Warek dari Pak Sudjarwadi. “Selamat Ulang Tahun UGM, Menteri Pendidikan dan Keluarga”. Apakah semegah itukah UGM?atau hanya dimata segelintir orang saja, sementara oleh kebayakan orang awam dianggap sebagai Universitas yang mahal? Saat saya mengajak seorang teman saya berdiskusi dengan saya beberapa waktu lalu, sambil menatap rektorat yang kukuh nan angkuh dia bilang “Saya tidak pernah merasa menjadi bagian dari UGM yang megah ini, saya hanya sebagian kecil dari element yang dimanfaatkan untuk mencari keuntungan orang-orang disini” Sementara saya, apakah saya merasakan saya adalah bagian dari UGM itu sendiri?Bagi saya, UGM, sebuah perguruan tinggi yang memberikan saya kebanggaan tersendiri, bukan dari nama besar dia, namun lebih pada bagaimana saya berpartisipasi didalamnya, bagaimana saya mendapatkan pengalaman dan teman, bagaimana saya belajar menghormati teman, bagaimana saya mengeksplorasi diri saya sendiri lebih dari teman2 saya tanpa terbelenggu oleh aturan di UGM itu sendiri, dan masih banyak yang lain.
Namun dari itu semua ada satu hal yang sampai sekarang tak pernah luntur, 2 periode di BEM KM masih meninggalkan sebuah kenangan dan jati diri. Kepekaan sosial, dan loyalitas terhadap sesuatu yang diyakini. itulah yang saya rasakan saat ini. Saat itu masih ada idealitas yang sampai saat ini masih saya perhatikan. Beberapa hal yang sekarang mulai luntur dari cita-cita UGM adalah falsafah manusia sebagai makhluk kodrati dan sosial. Kebanyakan sekarang mahasiswa lebih suka individualnya saja, mereka tak ingin mempedulikan orang lain. Hal ini dikarenakan silabus matakuliah sekarang lebih mementingkan nilai kognitif saja. Ya, begitulah UGM. Yang selalu menghasilkan mahasiswa yang hebat namun kadang tidak bermartabat. Mungkin karena latar belakang sosial mereka yang kurang mengerti saat berinteraksi dengan masyarakat atau beberapa faktor yang lain.
Lantas seandainya seseorang balik bertanya kepada saya “Lha mas maunya gimana?”
Pertama dengan menghela nafas panjang yang mengisyaratkan apa yang saya yakini ini bisa benar-benar terwujudkan. Saya ingin mahasiswa UGM menjadi mahasiswa yang pandai, berguna bagi masyarakat, dan mempunyai nilai luhur yang tinggi.
Mari kita berusaha mewujudkannya.

6 responses to “Thanks For UGM

  1. UGM,,,
    hmmm,,,
    sebuah retorika yang menggelitik benak ku ketika mengenang masa pertama kuliah,,,
    ada kesan aku dulu begitu membusungkan dada akannya…
    tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa biasa aja,,,
    karena menurutku, UGM tak jauh beda dengan tempat lainnya dibumi,,,
    dimana orang2 nya makan nasi, butuh tidur,butuh segalanya yang dibutuhkan oleh orang lain dibumi, yang bahkan tidak mengenyam bangku sekolah,,,

    dan memang menurutku sekarang UGM juga semakin mengisolasi diri, baik kepada kondisi sosial sekitar maupun dengan sesama didalamnya,,
    ckckckc

  2. kalau di UGM hanya belajar kognitif sangat sayang mas guntur. Kalau bisa sekalian belajar yang softskill. Karena selama ini alumni UGM sangat bagus dalam hal akademik namun kurang dalam softskill.
    Mari kita tingkatkan bareng2 softskill kita.

Comments are closed.