Romantisme Soekarno


Saat ini pesta demokrasi di Indonesia sedang memanas, memuncak menuju klimaks, dan fenomena seperti ini seperti halnya siklus hujan, selalu terjadi dan terus terulang untuk setiap 5 tahun. Janji-janji wakil rakyat seakan-akan mengingatkan kembali akan cita-cita saya untuk menjadi seorang politikus dan kuliah di Isipol UI/ UGM. Namun saat ini saya sadar menjadi seorang politikus sejati tidak harus berasal dari kalangan orang intelektual yang berasal dari Fakultas Isipol. Namun seorang politikus sejati adalah sesosok yang mempunyai kepedulian dan kedekatan pada masyarakat luas dalam hal ini massa. Karena ruang lingkup dari politik itu sendiri amatlah luas, terlepas dari tujuan dan maksud Politik itu sendiri. Baik untuk kepentingan sendiri maupun golongan. Mulai dari Pemilu 65 sudah mulai ada kepentingan oraganisasi masyarakat yang ditunggangi oleh kepentingan kelompok Hingga sekarang. (mirip banget dengan saat ini, sangat terlihat terutama asaat pemilihan DPD). Sesosok Soekarno menjadi tokoh yang kental akan hal itu. Dengan kendaraannya PNI, Soekarno mampu menyihir bangsa ini menjadi bangsa yang penuh semangat.


Berbicara tentang Soekarno, saya termasuk pengagum beliau. Teringat satu tahun yang lalu saya diberi beberapa video dari Bung Karno oleh mas Abbas, Mas Abbas adalah menteri dari kabinet Mas Budiyanto, sementara saya adalah staff salah satu departemen. Satu tahun kemudian mas Abbas menjadi wakil UGM dalam sebuah acara ngetrend di salah satu stasiun TV dalam acara “The Next Leader” dan dia menjadi pemenangnya. Gaya bicara yang sirih (sama sekali kontras dengan latar belakang beliau yang notabene adalah orang Medan) dan meyakinkan. Namun disini saya ingin membicarakan Soekarno, Bukan Mas Abbas yang telah memberikan saya video, makasih buat mas Abbas.
Selama ini para kandidat presiden banyak meniru cara bicaranya soekarno, secara beliau adalah orator ulung dan kelas wachid. Gaya bicara Soekarno seakan-akan mempunyai magnit tersendiri bagi masyarakat sehingga masyarakat bisa tersihir olehnya. Mulai dari masyarakat yang lemah menjadi masyarakat yang nekat dan masih banyak contoh lainnya. Gaya bercorong dimuka umum / berorasi dengan banyak menggunakan perkataan hiperbolis lebih banyak dikenal dengan sebutan gaya bahasa orasi yang romatisme. Seakan-akan dengan perkataan kita bisa menyatu dengan audience. Untuk melakukan orasi dan pidato semacam ini dibutuhkan adanya sebuah karismatik dari orang itu, dan itu dimiliki oleh sesosok Soekarno. Pernah menyimak Vivere Pericoloso?
”Revolusi Indonesia bagaimana bisa dilajutkan tanpa romantik, tanpa dinamik, tanpa dialektik?Nah, apa yang saya ceritakan diatas ini adalah pengalaman beberapa tahun…Hampir kita mati kutu sama sekali, kalau kita tidak lekas2 banting stir….Dengan koreksi banting stir ini kita kembali beri pada revolusi indonesia yang mempunyai arah, yang mempunyai direksion….”
Itu mungkin sedikit dari kutipan pidato Soekarno dalam pidato Hut RI 1964, dulu biasanya dibacakan dan diorasikan didepan istana merdeka, namun kadang juga di lakukan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (Senayan). Sebut saja Pidato presiden tahun 1963. Gaya romantismenya saat pidato kepresidenan 1963 sangat jelas sekali romantisnya. Wajar saja kalau Bung Karno sangat Don Juan. Heehehe..Untuk membangkitkan massa ribuan saja semudah memvokalkan kata, apalagi meluluhkan wanita.
Saya sendiri saat mendengarkan pidato Soekarno untuk pertama kali saya langsung tersihir oleh semangatnya. Luar biasa. Apalagi dalam pidato Genta RI 1963 yang dalam kutipannya Soekarno bilang

“ Seperti sekarang ini pada hari ini saya berbicara langsung kepada rakyat, rakyat seluruh Indonesia, bahkan juga langsung kepada rakyat seluruh dunia, dari timur sampai barat, dari selatan sampai utara, saya berbicara disini bukan sebagai mandataris MPR (saat itu parlementer), tidak sebagai presiden perdana menteri, tidak sebagai panglima tertinggi, saya disini SEBAGAI PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT…Dari sabang sampai merauke adalah suatu kebangsaan, pola kesatuan national entity, suatu idelogical entity…”

Gaya romantisme dan kharismatik yang sangat kental. Itulah Ir. Soekarno.
Jadi seperti itulah pandangan Soekarno yang menganggap Indonesia sebagai sebuah kesatuan idelogi, kesatuan bangsa, dan itu tidak pernah terpisahkan oleh satu bentuk kepentingan apapun, termasuk alam liberalisme. Sehingga saat itu Soekarno mencanangkan apa yang disebut Demokrasi Sosialisme. Sebenarnya Demokrasi sosialisme ini sendiri menjadi dan merupakan kamuflase dari sosialisme itu sendiri. Dan ini jelas bertentangan dengan beberapa faham peranakan liberalisme yaitu kapitalisme. Namun masyarakat cenderung sudah mengecap dan menganggap bahwa sosialisme itu identik dengan komunis yang atheis.

6 responses to “Romantisme Soekarno

  1. Dulu saya berpikir juga seperti itu mas…
    namun kadang kita harus peduli juga dengan nasib kita secara makro…
    artinya kebijakan2 yang diambil oleh para politikus dan negarawan itu nantinya juga akan mempengaruhi kegiatan kita dan nasib bangsa ini. Tidak salah kok seandainya kita berkontribusi didalamnya…

  2. Maap bget bro,bru s4 buka lagi.
    info terbaru kayaknya c ini.
    “Nah Dulu java digunakan sebagai aplikasi baik untuk menjalankan aplikasi permainan atau game. Tapi sekarang platform java digunakan sebagai sistem operasi, dimana sistem operasi ini bisa menjadi salah satu alternatif sistem operasi lainnya seperti juga Linux. Sistem operasi java ini dinamakan sistem Operasi Savaje.
    Hal itu dikenalkan oleh LG Electronic dan Savaje Technologies.”

Comments are closed.