Gadis Jogja dan Jogja


Sore di sebuah cafe yang terletak di ujung jalan affandi saya mengamati beberapa wanita paruh baya sedang asik membicarakan sesuatu sambil menikmati musik slow down, kopi arabica, serta melakukan browsing tentang segala sesuatu tentang budaya Rusia. Suasana disaat itu terlihat sangat cair, dua speaker Harman Kardon limited Edition dengan alunan musik instrument Kenny G menambah semakin cair dan santainya suasana saat itu. Terlepas dari beberapa buliran asap rokok dan kendaraan yang menghiasi sudut kota seni ini. Mungkin kalau suasana ini dihidupkan ditengah-tengah Senayan Building tempat para anggota DPR yang sedang melakukan rapat dan melakukan fungsinya sebagai lembaga konstitusi, suasana seperti ini membuat mereka bisa menikmati keindahan hidup, santai, dan yang pasti mereka akan jauh dari kata spaneng, serta bisa mensyukuri setiap nikmat Tuhan yang diberikan.

Sesekali saya mengamati sekumpulan anak muda itu, dijaket identitasnya tercantum nama sebuah universitas tekenal yang ada di kota jogja ini.

“Anjriiitt tadi aku ketemu pak Budi, dosen pengantar filsafat budaya itu, tau ngak seh dia sedang naek ke Pengadilan, mau cerai dia. Dia aku samperin dan aku tanya nilaiku UAS, kan kemaren aku dapet K gara2 ngak memenuhi 75%, trus dia mau ngasih aku nilai bagus kalau aku nglayanin dia maen coba….anjriit…”

begitu beberapa perbincangan yang saya dengarkan sekilas. Mungkin terkesan aneh dan ngak jelas jika itu yang mendengarkan seorang anak SD yang masih polos. Mungkin inilah sedikit potret kehidupan para remaja saat ini, sangat vulgar, dan sudah kehilangan batas malu. Kota yang dulu tekenal dengan kepolosan itu kini telah menjadi sebuah dunia modern yang penuh intrik, licik.

tatto girl

Tak seorangpun akan menyangkal bahwa dipinggiran kota ini masih terdapat sekumpulan masyarakat desa yang polos-polos, jika bertatap muka masih tersenyum ramah dan mengucapkan “Monggo mas, monggo mbak…monggo pinarak mriki..” dalam bahasa Indonesia “mari mas, mari bak, mampir sini” di tempat seperti ini kita akan menemukan sebongkah kedamaian, jauh dari hirukpikuk orang yang mengejar materi. Mereka masih erat silaturahminya, erat persahabatannya, dan tak pernah berprasangka buruk. Diantara sela-sela rumah masih terdapat kebun kelapa yang membentang luas, setiap pagi di dapur masih mengepul asap dari kayu bakar, masih terdapat suara kokokan ayam jantan, dan masih terdapat senyum lebar dari setiap manusia, meskipun itu tak saling kenal.

5 responses to “Gadis Jogja dan Jogja

  1. Semua tergantung manusianya.. karena Yogya yg benar2 jogya adalah tempat yang benar2 membuat damai hati yangmengunjungi.. terlepas dari hal2 itu adalah karena memang manusianya yang membuatnya seperti itu

  2. Jogja kota yang damai. Tidak semua wanita jogja begitu, karena di jogja masih menjunjung nilai nilai kebudayaan yang adiluhung…

  3. dimanapun tempatnya pasti ada yang baik dan ada yang buruk,tidak hanya di Jogja aja.

Comments are closed.