The Best Damn Trip


Quicky Planning

Pagi itu, sekitar pukul 8 am hape butut saya tiba-tiba berdering, “tiiittt ttiiiiittt” deringan itu seakan-akan ingin menunjukan bahwa HP ini emang butut dan sudah hampir tak pantas untuk berdering lagi, perlahan tangan saya mencoba meraihnya, fikir saya saat itu, mungkin ini sms dari kekasih saya, ternyata ada sms dari si Prima yang menuliskan kalau saya mesti ke Bandung untuk mengikuti Technical Meeting di Bandung dan mesti berangkat nanti malam, hari itu juga.Dan itu artinya saya harus meninggalkan semua agenda di hari senin di Jogja untuk ke Bandung beberapa saat.

Busyeettt, bukannya kenapa-kenapa, tapi ini minggu, pamalik sebenarnya seorang mahasiswa bila dihari minggu di kagetkan dan dibangunkan oleh sebuah kewajiban, mungkin lebih layak kalau mahasiswa itu dibangunkan dengan surprise yang sedikit menambah relaxnya holiday. Semenit kemudian, HP butut itu berdering dengan nada BB Ori Canada,

tah,uda dikabari si Prima? malam ini jadi ke Bandung kan?nanti keretanya aku bayari,OK??Trus pie ki le daftar??” suara itu masih terasa asing bagi saya yang notabene baru saja meninggalkan mimpi nikmat saya dan sejurus kemudian tanpa saya sadari saya pun menjawab

oh iya, siap ndan, nanti aku urus, gampang” sepertinya jawaban barusan merupakan ungkapan kekesalan dan kebingungan yang bercampur dengan ketidakjelasan saya.

Go To Bandung

Akhirnya aktifitas hari itu berlanjut dengan kisah yang terparalel demi tercapainya target semua kegiatan terpenuhi dan ke bandung tidak terlewatkan.Mulai bersih-bersih rumah hingga beberapa aktifitas privasi yang lain (sok idiiih). Dan akhirnya sekitar pukul 3 pm saya pergi kerumah si Aryudha di Banguntapan untuk mendaftarkan lomba programming PLC ITB yang diadakan Fistek-ITB. Jam 9 akhirnya kita berlima berangkat dari Jogja dengan KA Ekonomi Kahuripan dengan harga ticket sekitar 24.ooo IDR. Begitu masuk eh ternyata tersesat di area Restorannya si KA. dan dikenakan charge (*pungli) sebesar 25.000IDR. sontak saja hati kecil saya memberontak, namun apadaya ketika hati kecil saya memberontak teman saya bilang ingin membayar semuanya,wah apikan tenan ki si Aryudha. Secara teknis sistem ini berada diluar pungutan/ biaya yang seharusnya dibebankan kepada penumpang karena tanpa ada bukti resmi dan terbilang mengada-ada, dengan dana sebesar 25.000 IDR akan mendapatkan fasilitas tempat duduk, makan sekali (mie rebus atau nasi goreng dengan rasa yang bikin hidung mampet). hanya itu fasilitas yang diberikan oleh RES*A (sorry this person under censored), lembaga ini merupakan lembaga restoran kereta api milik negara yang seharusnya dari pegawainya menjadi contoh yang baik, jika ingin kaya jangan menarik Pungli, kerja di Qatar atau di Natuna (my Shoutout). Yah namanya pungli tetep saja pungli, sepertinya dalam kereta Ekonomi ini menjadi potret kehidupan di Indonesia, semua serba dibisniskan, mulai dari tempat duduk hingga bantal buat tidur. Mulai dari pedagang asongan penjual kopi dengan berbagai trik hingga ibu-ibu yang berdandan dangdut.

Kopi-kopi, mezon-mezon, pop mie nya mas, mbak…sayang anak-sayang anak, nasi anet -nasi anett ikan ayam..” itulah perkataan yang sering saya dengarkan saat itu, mungkin setiap detik pasti ada kata-kata itu, ya itulah susahnya cari uang. Mereka mesti bekerja keras demi sesuap nasi, demi keberlanjutan dari sang buah hati untuk memakan bangku sekolah, demi susu si kecil, demi berlangsungnya acara pernikahan mereka yang tertunda. Saya memahami hal itu, hingga akhirnya saya sendiri terlelap oleh kelelahan ditemani dengan musik kopi itu, hingga akhirnya sampai menjelang fajar terbit dari timur.

Ketika matahari itu terbit dari timur, sebenarnya masih tetap berada dikawasan musik kopi yang menemeni di setiap detik, bahkan semakin ramai saja, seakan-akan bertarung untuk mendapatkan pembeli hingga ada yang mondaar-mandiiir hingga 10x. Ketika itu telah masuk kawasan Garut, sebuah kabupaten yang permai terkenal dengan keasrian serta keaslian sundanya.  saya teringat dengan desa Pakelonan, desa sarerehan yang ada di film Kawin kontrak, mirip dengan suasana di garut ini, membentang sangat luas gunung salak yang seakan-akan menjadi paku pulau ini. Tampak dikejauhan anak-anak berseragam bendera Indonesia sedang menuju sekolah mereka yang kebetulan hari itu adalah hari senin dengan berjalan sedikit-demi sedikit. Tidak jarang juga dijumpai pak petani yang menjadi soko pangan negeri ini sedang menggarap sawahnya demi keberlangsungan hidup manusia.

Gunung-gunung tinggi itu mungkin memberikan sebuah pesan akan kokohnya tanah Padjajaran pada jamannya dahulu, sehingga menjadi tanah yang tak pernah takluk oleh Majapahit sekalipun. Dihiasi kabut yang dinginnya menusuk tulang, suasana itu tak menyurutkan masyarakat untuk giat bertani, apalagi kalau bukan untuk orang-orang kota??

Bandung

yah sampai di bandung sekitar pukul 9am, mungkin saya sedikit kecewa karena mitos-mitos yang berkembang adalah awewe bandung ma geulis-geulis pisan euy.dan ternyata hukum relativitas bekerja serta memberikan bukti pada kasus ini, biasa-biasa saja menurut saya. Namun hal yang paling membuat saya terkesan dan betah di kota ini adalah hawa Bandung yang khas, sejuk , hangat, dan nyaman. Begitu sampai di stasiun Kiaracondong langsung diangkot dengan Riung Bandung menuju simpang dago dan melanjutkan jalan kaki menuju ITB.

ternyata ITB waktu itu sudah masuk dan ada beberapa behavior yang mesti menjadi contoh dari anak-anak ITB bagi saya yang notabene dari Jogja Gadjah Mada.

-PD
kalau yang satu ini pasti membutuhkan sebuah proses yang tidak mudah, butuh waktu yang lama, ntah itu meningkatkan skill atau yang lain.
-Diskusi
Disetiap sudut di kampus ganesha ini selalu dipenuhi dengan orang yang ngobrol, ntah itu nggosip atau bertukar pemikiran yang pasti ada banyak mereka yang saling ngobrol dan tutorial, terlebih diarea Salman masjid. Kebanyakan mahasiswa memang sukanya ngobrol (*nggosip) dan ini tampak nyata karena di area ITB ini areanya cukup sempit dibandingkan dengan area UGM yang lebih besar sekitar 2xnya dari ITB.
-Menghormati Dosen
-Disiplin
-Kebersamaan
mungkin itu beberapa poin yang menjadi masukan bagi saya ketika berkunjung di ITB. Setelah mengikuti TM yang intinya adalah menginstall program PLC Mitsubitshi di notebook masing-masing akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke arah kostnya si Ave nak ME dikawasan Cisitu Indah. Sperti biasanya kami melewati hawa sejuk kota ini dengan candaan yang ringan. Setelah itu istirahat dan pukul 10pm berangkat ke Jogja lagi d.Welcome jogja and see u soon bAndung at 21th February ’10

3 responses to “The Best Damn Trip

  1. salam kenal…
    bandung emang neng enengnya geulis pisan euy…
    UNPAD, UPI…mantab kali…
    biasanyo kalo nongkrong enak di Ciwalk, Dago, kan bnyk FO2 tu…

Comments are closed.