Ini masalah keadilan


Mungkin sekian detik, sekian menit mata ini belum mampu terpejam, jadi ingin menulis semacam pengalaman pribadi. Di beberapa stasiun telepisi terutama di Metro dan TV1, akhir-akhir ini sedang santer meliput berita-berita politik semacam Susno (maklar kasus-Polri-Jaksa-Pajak), Bu Sri Mulyani dan Sdr. Ical (cabinet and Party) dan beberapa berita politik yang lain, jujur saya sangat jenuh dan jengah dengan dua stasiun televisi ini, terlebih ketika beberapa jam yang lalu terdengar santer berita, century cases will be closed. WTF??udah menghabiskan dana 2,xx M untuk membongkar kasus ini. akan diberhentikan saja??Kalian makan, menikmati hidup dengan fasilitas gratisan, dan ada disana itu dengan UANG RAKYAT BUNG. Mungkin karakter-karakter pemimpin bangsa seperti ini lebih cocok jika dijadikan sebagai pemain drama, dan senayan sebagai theater buildingnya, mungkin akan menjadi theater building semegah se asia. Masyarakat saat ini sudah mulai sadar dan paham, masyarakat sudah dikenakan wajib belajar 9 tahun, sudah pinter-pinter, bahkan anak madrasah saja mungkin lebih pintar daripada mereka yang setiap harinya tidur di kursi empuk, di Senayan. terlepas dari itu semua, saya mulai teringat dengan kasus saya, dengan sangat hati-hati saya melihat isi dompet saya, di kympulan surat-surat di dompet saya yang paling menjadi pusat perhatian saya mungkin adalah kertas berwarna putih dengan sedikit aksen merah. Tertanggal 24 Februari 2010. atas nama SUBANI R. Pangkat Aiptu 6704***. Kertas tilang tepatnya, kertas tilang ini belum saya ambil lantaran saya tidak merasa bersalah secara yuridis. saya hanya lalai (dueeerrrrrr) tidak meminta STNK kepada adik saya waktu itu. Saat itu saya meminta keadilan, jika tidak mendapatkan keadilan, setidaknya mendapatkan keringanan ditempat. Namun apa yang terjadi, seperti halnya saya dianggap hewan, saya rasanya seperti dilecehkan, tidak dianggap sama sekali. Akhirnya saya meminta surat untuk ke Pengadilan jogjarkarta. Bapak Polisi yang “baik” itu menuliskan saya ke surat warna putih agak kemerah-merahan, sebelumnya saya tahu beberapa fakta bahwa:

  • Surat warna merah artinya INGIN MELAKUKAN PEMBELAAN atas kesalahan yang dibebankan. sehingga akan mendapatkan rujukan ke Pengadilan negeri setempat.
  • Surat warna biru artinya MENGAKUI KESALAHAN dan akan diberikan kewajiban untuk membayarkan uang sebesar yang “dititipkan” KE BANK BRI (ATM)

dan ketika saya menanyakan hal itu dari bapak memberikan penjelasan “Rekening BRI RUSAK MAS” masih ingat jelas bagaimana saya melakukan perdebatan saat itu, tepatnya di depan gereja Kotabaru. dan saya sendiri yang dulunya sempat mengisi kabinet BEM Universitas di Departemen Advokasi-pun masih ngeyel dengan segala argumen saya. hingga proses tilang hampir selesai, keyakinan saya ingin membayar di BRI belum juga dikabulkan dan saya diberikan kewajiban untuk ikut sidang yang dalam kenyataannya SAYA TIDAK MERASA INGIN MELAKUKAN PEMBELAAN ATAS TUDUHAN YANG DITUDUHKAN DAN SAYA MENGAKUI KESALAHAN. Kejadian itu terulang kembali di tanggal 16 maret 2010. dan untuk kali ini, masih dengan orang yang sama, saya memenangkan perdebatan ini. Mungkin benar kata pepatah jawa “BECIK KETITIK OLO KETORO” dari situ ada semacam kebencian emosional yang dari waktu kewaktu terakumulasi dari diri saya dan itu tidak salah sekalipun, karena ini menyangkut psikologis saya pribadi, dan bukan orang lain, dalam diri saya semacam terbentuk image negatis dari kata POLISI. mungkin karena kelakuannya yang BEJAT. fakta menyuguhkan kondisi yang memang kebanyakan POLISI berkelakuan BEJAT, PENUH INTRIK, dan HEWANI.

Sifat inilah yang mungkin memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa jajaran birokrasi POLISI butuh REHABILITASI, REGENERASI, dan REFORMASI. menjadi pamong masyarakat yang adil, baik, dan bermartabat.

5 responses to “Ini masalah keadilan

  1. hahahahahahaha..suhu mau jadi polisi apa??mahal suhu..
    harus doyan neraka dikit … kalau suhu mah masih alim suhu..ga bgs jadi polisi

  2. hahaha…mereka juga manusia gan, yang butuh duit buat makan..
    pasal 57 UU no 14.th 1992 mungkin udah gk berlaku, makanya polisi bisa berlenggang sante naik motor.(ngreyen motor baru bro)
    mungkin pasal ini bisa ditambahkan di
    pasal 57 UU no 141: polisi selalu benar
    pasal 57 UU no 142: kalau polisi salah, lihat pasal 57 UU no 141.

Comments are closed.