Sabda Jati:124


Tulisan ini saya dedikasikan secara pribadi kepada Bangsa Indonesia yang sangat saya sayangi.

66 tahun sudah negeri ini berdiri secara merdeka. Ketika itu, darah setiap pejuang tercecer di setiap gang-gang gelap. Maklum, 66 tahun yang lalu listrik masih langka. Namun meskipun listrik masih langka, namun setiap pejuang dan rakyat Indonesia bisa mengetahui secara jelas siapa musuh bangsa ini sebenarnya. Hingga datang suatu masa dimana listrik bukan hal yang langka lagi di kota, namun sayangnya. Sekali lagi sayang, musuh bangsa ini semakin blawur, orang bilang ini musuh laten. Musuh yang dapat menjelma menjadi siapa saja. Bahkan si penulis.

Bangsa Indonesia, ketika saya berbincang dengan orang luar negeri. Dengan bangga saya menceritakan keelokan nusantara ini, namun ada satu sisi yang saya tutupi, kebobrokan negeri ini. Bagaimana tidak saya tutupi? Ini aib yang harus kita lawan, kita hilangkan. Aib negeri ini cukup diekspos oleh media saja.

Dipinggir jalan terpampang jelas banyak poster, baliho yang mengatas namakan kepentingan rakyat. Padahal untuk kepentingan pribadi. “Wes rasah mangkir, kabeh ues reti” begitu kata orang jawa, Sudah tidak usah mengelak, semua juga sudah tau. Poster-poster itu hanya untuk kepentingan manusia yang sudah terjangkit penyakit laten. Penyakit perut yang rasa sakitnya melilit ketika lapar. Jika saat ini para pejuang masih hidup mungkin mereka akan bilang, “dasar pemuda nggak tau diri, wes di rewangi toh nyowo malah muk mikirke weteng. Jancuk kabeh. Mikirno pie ben negoro iki maju!”

Negara yang vocal dengan slogan “merdeka atau mati” ini seolah olah disulap oleh sekelompok manusia menjadi “kenyang atau mati”. Mungkin Tuhan mengkutuk negeri yang menjadi paru-paru dunia ini, Dia mengetahui bahwa hamba2nya kerjaannya hanya munafik, tidak menepati janji, dan suka mengumbar sumpah. Sumpah serapah untuk kedudukan yang mewah.

Sekali lagi, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang ndablek, yang mampu rawe-rawe rantas malang-malang putung.Pemimpin yang tidak munafik, pemimpin yang mampu mengkondisikan rakyatnya hidup tentram, tidak jegal-jegalan. Dan yang peling penting pemimpin yang berani secara terus terang mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Karena bencana laten sedang menjangkiti negeri ini bukan saja atheis, bukan saja vandalism, bukan saja iri dengki srei, meri. Tapi bahaya laten korupsi.

Mental negeri ini sedang diuji oleh yang punya hidup, dan sedang diberi cobaan bencana laten korupsi. Korupsi yang menghalalkan segala cara. Naas sekali bangsa yang aku cintai saat ini, apakah sedang sekarat? Apakah sedang hancur lebur?

Semoga saja benar kata proklamir bangsa ini, Soekarno. BANGSA INI DIGEMPUR HANCUR LEBUR,BANGKIT KEMBALI, DIGEMPUR HANCUR LEBUR, BANGKIT KEMBALI, DIGEMPUR HANCUR LEBUR BANGKIT KEMBALI.

Hawya pegat ngudiya ronging budyayu

Margane suka basuki

Dimen luwar kang kinayun

Kalising panggawe sisip

Ingkang taberi prihatos

Ulatno kang nganti bisane kepangguh

Galedahen kang sayekti

Talitenen away kleru

Larasen sajroning ati

Tumanggap dimen tumanggon.

Lakonana klawan sabaraning kalbu

Lamun obah niniwasi

Kasusupan setan gundul

Ambebidung nggawa kendi

Isine rupiah keton.

(Sabda Jati: 124)