Malam yang berarti


Jam tangan merk Alba menunjukan angka 00.30 WIB. Seolah olah jarum jam alba itu menggambarkan posisi saya saat ini.Selalu pada posisi dua pilihan.Tak terasa pagi tadi saya alhamdulillah sudah menyempurnakan ibadah dengan melaksanakan ibadah Solat Ied. Memang di Indonesia terdapat beberapa hal yang membuat perayaan kali ini terasa berbeda. Ini mengenai penetapan tanggal 1 syawal 1432 H. Sore tadi, ketika langit mulai menguning. Saya melihat adanya bulan sabit yang sudah meninggi, kira-kira bulan saat itu menunjukan tanggal 3 syawal. Seperti alasan saya sebelumnya, walaupun ini menurut keyakinan saya pribadi. Insyallah saya mempunyai alasan kenapa saya berteguh pendirian untuk merayakan 1 syawal tadi pagi (31 Augt 11). Alasan saya karena saya merujuk pada sebuah hadist

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081)

Insyallah manusia wajib bertawakal dan berikhtiar.Untuk kebenaran hanya milik Allah semata. Akhirnya saya melanjutkan safari silaturahmi ke rumah pak kadus dimana disitu digelar sebuah syawalan massal.ketika saya berangkat ke pak kadus, saya sempat menjumpai seorang nasrani. Beliau saya hampiri karena saya lebih muda dan merasa saya lebih pantas untuk menghampirinya, dia menitipkan salam kepada seluruh warga serta mohon maaf tidak bisa hadir pada acara kali ini. Saya melihat ada sebuah kelegowoan dari si bapak. Dalam hati saya, saya merasa sangat bersyukur di lahirkan disebuah masyarakt yang majemuk dan bisa mengerti, memahami setiap hak dari warga. Tanpa ada pemaksaan kehendak. Safari silaturahmi ini alhamdulillah berakhir di rumah seorang guru ngaji saya, kebetulan saya telat hadir dibandingkan dengan adik2 tingkat saya. Sungguh contoh yang memalukan. Sekitar 15an orang santri hadir. Sudah sejak memasuki bangku kuliah saya berhenti mengaji dari guru saya ini karena saya mulai mempunyai kesibukan sehingga kadang pulang tidak pasti. Tapi alhamdulillah Tuhan Allah SWT memberikan hidayah kepada generasi dibawah saya untuk mengaji mengikuti jejak2 kami.

Terasa lama sudah saya merasakan tidak melakukan permainan jari di blog ini. Sekedar cerita,berbagi ceria.Mungkin karena efek jamaah facebookiah dan twitiah sehingga ketika ada trouble cukup pasang status ato update timeline.Masalah sudah sedikit berkurang. Dan tiba-tiba ketika pukul 23.00 WIB, saya menyalakan televisi dan menjumpai sebuah film. Awalnya saya tidak tau judul film itu apa,namun setelah sebentar browsing dengan key word “dr.kartini film”, si google memunculkan sebuah judul film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. 

Film ini benar-benar sangat mengetuk hati saya, menyentuh sisi perasaan saya yang jarang tersentuh sebagai seorang lelaki (lebay). Realita kehidupan wanita dengan 7 sisi, 7 sudut pandang. Bagaimana beratnya sebuah kehidupan seorang wanita dalam hidup.Penuh perjuangan. Namun ada hal yang membuat saya berdecak kagum adalah sosok dr. Kartini itu sendiri. Dia membius pikiran saya bahwa anggapan dokter “matre” itu tidak ada. dr Kartini yang diperankan si Jajang C Noer memberikan pengertian kepada saya bahwa seorang dokter mempunyai sebuah kepribadian yang simpatik,touchable,selalu berprasangka baik,optimis,berjiwa sosial tinggi,dan ramah. Saya pikir “enak juga ya jadi dokter, hasrat ruhaninya sepertinya terpenuhi dengan sempurna. Film dibuka dengan adegan di mana dr. Kartini berjalan tergesa-gesa mengantar seorang pasien ibu hamil bernama Lili (27 tahun, diperankan Olga Lydia), yang tengah mengalami pendarahan hebat. Tampak rekan seprofesinya, dr. Rohana (Marcella Zalianty), turut membantunya. Di antara mereka, hadir dua orang pria, Randy (30) suami Lili dan Acin (15), adiknya Lili, yang terlibat pertengkaran hebat saat peristiwa itu berlangsung.

Randy dan Acin saling lempar argumen mengenai pendarahan yang kemudian membawa Lili pada kematian. Alur mundur, di pagi yang tenang Rumah Sakit Fatmawati Jakarta dikejutkan dengan kehadiran tiga orang perempuan, Rara (14 tahun, Tamara Tyasmara), Yanti (25, Happy Salma), dan Lastri (27, Tizza Radia).Ketiganya sama-sama mengunjungi dr. Kartini dengan tiga kasus berbeda. Yanti saat itu ditemani Bambang (25), tukang antar jemput dirinya,  mengeluhkan kesehatan kewanitaannya yang menurun.

Kepada dr. Kartini, Yanti mengaku berprofesi sebagai wanita panggilan yang terbiasa mangkal di pinggir jalan. Dalam sehari, tiga sampai empat kali dirinya gonta-ganti pasangan. Dari hasil pemeriksaan, dirinya divonis mengidap kanker leher rahim stadium awal.Lain Yanti, lain pula Rara. Ia adalah pelajar menengah pertama (SMP), yang mengaku  telat menstruasi selama dua pekan. Hasil menunjukkan Rara tengah mengandung. Dengan polos, Rara pun menceritakan hubungan layaknya suami istri dengan kekasihnya, Acin, beberapa minggu sebelumnya.

Pada kasus Lastri, dr. Kartini menemui suatu peristiwa yang anomali. Dirinya tidak menyangka masih ada sosok laki-laki, Hadi (30)–suami Lastri–yang mau menunggui dengan setia istrinya yang tidak kunjung hamil karena permasalahan berat badan.

Kisah yang hampir sama juga muncul dari sosok bernama Ratna (25, Intan Kieflie) yang juga sempat memiliki kesulitan dalam memiliki anak. Setelah menjalani berbagai usaha, dia bersama suaminya, Marwan (27), akhirnya memiliki anak yang masih berada di usia sembilan bulan kandungan.Kisah perempuan-perempuan itu tak hanya di situ. Ada lagi kisah perempuan karier bernama Ningsih (30), yang digambarkan sedang mengandung. Sayang, ia tak mensyukuri kandungannya dengan memutuskan akan menggugurkan kandungan apabila anaknya tidak berjenis kelamin laki-laki. Usut punya usut, sikapnya tersebut didorong oleh kehidupan rumah tangganya yang dia anggap tidak mesra. Perbedaan status mendorongnya lebih dominan. Berbeda dengan dirinya yang sukses dan keras, suaminya justr tergolong pria lembek dan tidak sesukses dirinya.

Dalam perjalanannya mengamati perempuan, dr. Kartini dipertemukan dengan sosok dr. Rohana, dokter muda yang begitu bergelora dan bertolak belakang dengan dirinya.  Konflik hadir di antara mereka manakala dr. Kartini dianggap berpikiran lebih tertutup terhadap analisis jender, sedangkan dr. Rohana lebih terbuka terhadap jender termasuk dengan tidak pernah menutup diri dari lawan jenis.Bahkan dr. Rohana memiliki kekasih seorang anak band yang urakan, sedangkan dr. Kartini memilih untuk menutup diri dengan lawan jenis.

Di akhir kisah, jalinan cerita itupun mengerucut pada sebuah pertemuan yang tak terduga. Ya, satu sama lain memiliki keterikatan dalam jalinan cerita yang dihadirkan.  Meskipun kisah cinta tujuh orang ini berbeda-beda, namun klimaks film ini justru mempertemukan kesemuanya.   Di ujung kisah, ruang asmara pun akhirnya berlaku pada dr. Kartini. Sebuah peristiwa tak sengaja, mengantarkan  dr. Kartini bertemu dengan mantan pacarnya dulu ketika masih muda, yang tidak lain adalah ayah dari dr. Rohana. Sebuah luka asmara di masa lalunya pun akhirnya  terkuak.

malam ini 31 Augustus 2011.Tuhan Allah SWT telah memberikan pengertian sedikit kepada saya arti seorang perempuan bagi saya. Baik di masa lampau, sekarang, maupun dimasa yang akan datang. Wanita itu partner hidup, wanita itu sisi yang diciptakan Tuhan untuk menutupi sisi kekurangan lelaki.

Jarum jam Alba menunjukan pukul 1.15 WIB. Beberapa menit yang lalu terjadi error routing sehingga ada 2 orang nomer asing menderingkan Handphone saya. Saya bisa memaklumi karena hari ini masih dalam suasana lebaran,arus komunikasi crowded, bahkan terkadang error and failure. Akhirnya Postingan saya ini mesti saya sudahi dan sampai bertemu dipostingan saya berikutnya.Thanks.