Nonton Tipi


This slideshow requires JavaScript.

Alunan ayat-ayat suci terdengar sayup-sayup ditelinga saya.mungkin ini efek ramadhan kemaren.Beberapa menit yang lalu di televisi diputar film era 2009. Judulnya kalau nggak salah “wanita berkalung sorban”
Alasan saya kembali add new post disini bukan karena saya pacarnya Revalina S Tomat,sama sekali bukan.Namun lebih kearah, saya kangen dengan kampus lama saya. Yaitu di Jogjakarta,kebetulan ada beberapa scene yang memang mengambil tempat di perpustakaan kampus saya.Teringat memory 4 atau 5 tahun yang lalu.Diperpustakaan itu, tepatnya di lantai dua, ruangan sampoerna corner. Sehabis kuliah saya mencari dan mengantri untuk menikmati akses internet.mengenaskan…
Tapi itu saya lakukan karena memang saya berniat mencari akses internal ke IEEE waktu itu.kebetulan kampus berlangganan journal dari IEEE dan bisa diakses free melalui proxi (istilah ngetrendnya).Tahun ketiga saya jarang mengunjungi perpus itu lagi, kecuali kalau menjelang ujian. Hingga akhirnya saya menginjakan sejarah di tahun keempat. Dimana setiap mahasiswa dipaksa untuk mengunjungi perpustakaan. Mulai sering saya menikmati udara-udara tak sehat dari perpus UPT3. Bahkan terkadang pulang malam, pinjam buku sampai diperpanjang,padahal dirumah juga sama sekali nggak dibaca (hehehe). Biar terlihat afdol saja kali ya.Dulu sewaktu perpus ini masih jadi satu dengan Swaragama FM. Saya sering menikmati beberapa buku (sombong) sambil menikmati pemandangan jogja sebelah timur, ditemani secangkir kopi,dan radio HP channel swaragama.Itulah cerita saya tentang setting latar yang digunakan dalam salah satu adegan film Wanita berkalung Surban.

Trus kalau disuruh menceritakan film yang ditonton tadi (wanita berkalung surban) komentarnya apa??

Kalau ditanya seperti itu,sekali lagi saya dipaksa untuk mengagumi wanita berjilbab.Revalina Si Tomat cantik juga ya.Subhanallah.Dalam kenyataannya si Tomat malah nikah sama leknya sendiri, si Khudlori yang masih ada hubungan kerabat walaupun tidak ada hubungan darah. Overall ceritanya banyak yang bisa di tebak. Namun ada beberapa bagian yang cukup mengena. Ketika si Tomat sama si Kudlori akan di rajam sama masyarakat pondok (sepertinya ini pondok salafiah,karena hukum yang berlaku disini AlQuran,Hadist,dan Sunnah) maka munculah si Widyawati sebagai ibu si Annisa (Tomat). Saya pribadi merasakan bahwa untuk menegakan sebuah hukum islam memang benar2 dibutuhkan sebuah tekat yang kuat.Saya mencoba merasakan bagaimana perasaan seorang ibu ketika anak kandungnya di hukum rajam. Akhirnya si Widyawati memungut salah satu batu dan berkata ” HANYA ORANG YANG TAK BERDOSA YANG BOLEH MELAKUKANNYA” sambil membawa batu untuk diberikan kepada orang yg ingin menghukum si Kudlori sama si Tomat. Namun tidak ada yang berani,malah ayah si Tomat (Kyai Hanan) jantungnya kumat dan meninggal. Inilah bagian yang berkesan dan unpredictable menurut saya.