Cerita ini hanya nonfiktif belaka…


Fiuh udara jogja rasanya panas sekali, kira-kira sekitar 4 derajat lebih panas dari biasanya. Sudah lama sekali tidak mencurahkan perasaan dan isi hati di blog ini. Blog ini mulai usang, pagerank sekarat, sepi komentar, sepi cit cat. Sihir Mark Zukerberg berhasil mengelabuhi produktifitas, gosokan jin twitter juga tidak kalah ampuh. Ini karena  blog developer and ownernya kurang kreatif dalam mnyihir blog lebih “social network”.  But I don’t care about blog development and whatever what do you say, lagi suntuk, dan gerah. Sekali lagi karena tempat tinggal yang biasanya adem ayem toto titi tentrem kok berubah rasa menjadi udara yang benar-benar tropis, alias panas. Kalau orang Suroboyo bilang “huawaneee puanasss tenannn cuookk” lengkap dengan penekanan intonasi yang khas. Untuk kali ini saya akan memaparkan kepada  kalian, membentangkan ingatan satu persatu. Disatukan…dan mari kita mulai.

Pelajaran pertama adalah PPKN (Pedoman Pakem Kawinan Ningrat), Pelajaran ini diterima kemaren selasa tepatnya tanggal 18 Oktober 2011, Seloso Wage. Ditengah panasnya asmara antara Sultan dan Si Presiden saat ini, Sultan “ngunduh mantu” gedhen putrinya yang ragil. Di beberapa siaran tivilisi tampak mereka berpelukan dan saling memberikan selamat atas pernikahan. Pelukan mereka mengisyaratkan sebuah keakraban, dan seperti itulah yang seharusnya terjadi. Putrinya lumayan cantik, cowoknya juga berkharisma. Maklum semasa kuliah dulu rutin mendapat plonco dan akhirnya rutin mlonco juga. Rutin di plonco ala militer, pepatah lama bilang no pain no good body.Semoga keluarga yang ditinggalkan di rumah tetap bisa menjaga amanah keistimewaan negeri ini. Serta diberi ketabahan.Tapi kok nggak ada tangis2annya ya?atau tangis2annya di dalam.Maklum diliput banyak mata kamera. Ini terlihat ketika pamitan dia fine2 aja. No tears. Ga ada sebuah tangisan yang dramatis seperti  ibu yang jarang dan merasa berat hati melepas anak ragilnya. Mungkin karena si anak sering ke Manchester. Si anak lebih dekat dengan si Alex Fergie dari pada si ibu. Untuk pengantin baru Ndoro Bendoro vs Ndoro Yudhonegoro semoga diberi keimanan dan keturunan yang berkualitas. Sukur sukur besok anaknya disekolahkan sepakbola di Manchester academy and mengharumkan nama ibu pertiwi.

———————————————————————————————————

===========================================================

Pelajarang kedua adalah IKJ (Iki Karaktere wong Jowo)

Saya merasa malang dilahirkan di suku jawa.

Saya merasa malang dilahirkan dari golongan keningratan.

Saya merasa malang menjadi bagian yang termakan mitos Nyi Roro Kidul.

Saya merasa malang terlahir di negeri 1000 mitos.

Tapi saya akan merasa lebih malang lagi kalau tidak tinggal di Jogjakarta yang ISTIMEWA.

Ketikan ini terhenti ketika chart music memutarkan lagunya Kahitna, semasa kuliah lagu ini menjadi andalan, sering saya nyanyikan kalau sedang menikmati sela-sela perkuliahan,atau sambil menikmati udara sore disekitar Kantor Pusat UGM. U know lah, romantic banget ni lagu.Ditambah setting kantor pusat yang klasik, lengkap dengan cemara 7 nya. Back to the topic. Beberapa waktu lalu saya menambalkan ban motor yang gembos. Di dompet sudah tidak ada uang satu recehpun, jangankan uang. Pulsapun masih ngutang di tempat wawan. Dengan terbata-bata, penuh basa-basi, aku beranikan diri untuk meminta kepada kedua orang tua yang sangat aku hormati. Sebagai bocoran ya,Motor ini saya terpaksa saya karena untuk hari selasa 24 oct harus saya gunakan untuk ke kampus. Ngapain kalau nggak mengejar nasib?Sesampai di bengkel di kawasan Pedak, saya disambut dengan gerutuan si tukang bengkel. Terlontar pesan yang tidak ikhlas dari gerak-geriknya. Mungkin belum diberi uang jajan dari sang istri sejak pecan lalu. Umurnya sekitar 55 tahunan, aku mengetahui itu dari bentuk ototnya yang masih kuat tertempel di tulang. Alhasil 3 kali si bengkel menambal ban.Mungkin karena si bapak bengkel capai atau pusing, pada penambalan yang terakhir saya harus menunggu di sampingnya untuk memastikan apa yang dia kerjakan dikerjakan dengan baik. Dan memang si bapak kurang cermat. Memang mental supervisor kali ya??hehehehe.Tepat 5 menit dari adzan maghrib tambal ini selesai. 10 ribupun menjadi ongkos yang aku bilang setimpal, mengigat si bapak sudah susah payah mengeluarkan umpatan-umpatan lirih yang tidak sengaja ditangkap oleh daun telinga ini. Ketika umpatannya muncul aku hanya bisa tersenyum, pure smile and aku berikan senyuman ini secara ikhlas.Inilah karakter orang jawa, hanya mengumpat disatu sisi yang diberi umpatan hanya mengkondisikan untuk memiliki  tetap berada pada kondisi interpersonal yang baik. Kalau orang jawa bilang  “ewuh pakewuh”.

Ketika saya menunggu si bapak menambal ban, aku terlintas sebuah hasil survey yang mengatakan daerah ISTA YK ini daerah terbersih dari korupsi se Indonesia. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan dan semoga daerah-daerah lain segera menyusul. Namun disisi lain, aku melihat bengkel dan rumah bapak bengkel ini tidak berubah dari 10 yang lalu. 10 tahun yang lalu aku sering diajak ibu untuk ke pasar, sesekali aku mengamati daerah sekitar bengkel ini. Artinya perkembangan ekonomi dan infrastructure dari kawasan ini cenderung jalan di tempat. Terlepas dari laju inflasi di Jogjakarta relative rendah. Ini juga sesuai dengan prinsipe uwong jowo “ alon-alon waton klakon” sama dengan semboyan salah satu iklan rokok “ rumput sendiri lebih hijau daripada rumput tetangga” sehingga orang jawa prosentasi untuk merantau itu sedikit bila dibandingkan dengan suku Bugis, Makassar, atau Minangkabau.

Menurutku kalau kelamaan di jawa bisa mati seperti katak yang mati dilumbung padi. Kok bisa? Dahulu kala asal mula Kata Jawa kan berasal dari kata Jawa Dwipa (Kaya padi), sementara Sumatra (Swarma Dwipa-Kaya Emas).

Pelajaran kali ini kita ckupkan sekian, sudah waktunya istirohat. Oh iya, setelah aku baca-baca di timeline twitter,facebook emang banyak yang sedang mengeluh panasnya Jogja. Sleep tight all, besok mesti cari koneksi internet untuk bikin presentasi tentang telco. Doakan semoga sukses…see you at next post.

One response to “Cerita ini hanya nonfiktif belaka…

Comments are closed.