image

Ini sama sekali bukan iklan kampanye for DKI-1. Tapi ini suara bocah perantau yang mengadu nasib di Ibukota.

“This is Jakarta!!!” ini yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakan kaki di Jakarta, saya berjalan dari kawasan Tebet(MTH) menuju kantor kawan lama saya di kawasan Gatot Subroto, dari perjalanan kaki ini saya melihat betapa mewahnya langit Jakarta. Dilangit banyak bertengger nama-nama perusahaan terkenal, sebut saja Standard Chartered, Adaro, ANZ, Mandiri dan masih banyak lagi. “Jakarta mewah cuy…” begitu kata anak2 gahol jakarta

“hallo tah pie kabare” sapaan seperti itulah yang saya dapatkan dari kawan lama saya ini, dan saya pun naik motor kearah kawasan Bintaro. Dalam perjalanan menyusuri Senayan, hingga jalan tikus selebar 2 meter bersama kawan saya ini. Dan disanalah tampaknya kota ini sedang dalam masalah besar “Kemacetan”

Sebulan kemudian saya kembali menginjakan kaki di Jakarta, dan saya mesti menghirup udara kota ini lebih lama lagi, amanat dari orang tua adalah suruh mencari tempat tinggal di Bintaro. Namun setelah saya pertimbangkan matang2 saya memutuskan untuk negosiasi dengan orang tua agar boleh dan diijinkan bertempat tinggal di daerah pilihan saya. Pertimbangan kalau ingin hidup di Jakarta adalah

1.       Air

2.       Transportasi

3.       Living Cost.

4.       Keamanan

Hal ini sangat penting untuk menjadi pertimbangan mengingat kota ini bukan kota yang ramah bagi beberapa orang. Ketika awal sampai di Jakarta saja saya bertemu dan berbincang2 dengan sesame orang dari Jawa, dia bilang kalau banyak target Petrus di Jogja yang lari ke Jakarta (sekitar tahun 70-80an). Dari website akhirnya saya mendapatkan informasi bahwa, kualitas air di Jakarta Utara adalah paling buruk, paling baik di daerah Jakarta Selatan, disusul dibawahnya Jakarta Timur. Transportasi paling efektif adalah kereta, karena kereta nggak ada yang namanya kena Macet. Dan Busway. Untuk keamanan paling parah adalah kawasan Jakarta Barat disusul Jakarta Utara. Tentu saja itu secara keseluruhan. Tidak bisa dipatok perdaerah atau perkecamatan.

3 bulan berjalan, sesekali jalan2 ke sekitar nadi bisnis Ibukota. Ya tidak lain tidak bukan adalah Kawasan Tamrin dan Sudirman. Masuk GI, PI, EX. Dan pulang melalui kawasan Senen. Sepertinya Njomplang sekali ekonomi negeri ini. Di GI tidak ada gembel kecuali saya (waktu itu) dan di kawasan Senen menuju Jatinegara, sepanjang jalur KRL banyak sekali perkampungan kumuh.Dan lebih tampak lagi jika kita naik KRL AC setelah itu naik KRL Ekonomi. Sangat sangat nyata. Jakarta seharusnya menjadi kota yang nyaman, ramah. Pernah suatu hari saya pergi ke arah Senen dengan KRL, dan yang saya menemui anak seumuran SMP sedang ngelem dan berciuman. DAMN. This is Jakarta???

Ini realita kehidupan social yang pemerintah harus cepat menangani secara jujur dan adil.

Ketika saya naik KRL dari kawasan Jakarta Kota kearah Manggarai, saya berpikir konyol. “ Mudah sekali rasanya menghancurkan Indonesia ini, Rusak saja semua sumber daya yang ada di kawasan Merdeka Barat, Tamrin, dan Sudirman.” Otomatis semua perekonomian dan pemerintahan negeri ini luluh lantah. Itu mungkin alasan kenapa Ir. Soekarno membangun Gedung Agung Jogjakarta, Istana Tampak Siring. Karena jauh2 hari si Insinyur sudah memikirkan hal terburuk jika ada orang yang berpikiran macam saya.Hehehe..

Dan sepertinya itu juga alasan kenapa dia memiliki pendapat untuk memindahkan pusat pemerintahan di Kalimantan. Selain agar pertumbuhan ekonomi akan berjalan merata (Kalimantan termasuk dalam 10 pulau terbesar di dunia) juga karena factor kestabilan tanah. Struktur tanah di Kalimantan lebih stabil terhadap ancaman Gempa daripada di Jawa.  Belum lama ini sedang giat2nya kegiatan gempa bumi dpat dirasakan di Jakarta.Kita semua tidak pernah menginginkan kejadian terburuk itu terjadi, tapi kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kan?

 Indonesia mempunya cakupan geografis terunik didunia, karena berbentuk kepulauan nan luas. Kalau berbicara area geografis yang luas, sebuah Negara yang luas kebanyakan mempunyai pusat bisnis dan pusat pemerintahan yang dipisahkan. Sudah saatnya Jakarta menjadi New York, dan pemerintah mencari Washington di lokasi yang berbeda. Sudah saatnya Jakarta menjadi Shanghai of Indonesia, karena kota ini sepertinya sedang berkembang dan tumbuh kearah sana.

Jakarta harus segera berbenah diri, agar lebih disenangi. Ketika orang kembali ke Jakarta akan bilang “This is Jakarta!!!” pakai tanda seru, bukan tanda tanya.

Jakarta, 16 Juni 2012