Tempe


Tempe, dulu sewaktu saya kecil, saya sering disuruh membeli tempe buatan home industry. Kebetulan di desa kami ada keluarga yang masih membuat tempe secara tradisional. Bungkus tempe pun belum dari plastic, masih berupa daun pisang atau jati. Untuk mengaduk tempe msaih menggunakan kaki manusia. Ya kaki manusia. Meskipun terkesan tidak higienis tp kenyatannya selama saya mengkonsumsi tempe yang pada waktu itu selama saya mengkonsumsi tempe baik2 saja.tempe waktu itu dianggap orang sebelah mata dan kastanya lebih rendah daripada daging ayam potong, waktu itu kalau beli 2000 rupiah, kalau tidak salah masih dapat tempe 15 buah.kalau 3000, bisa jadi tas kreseknya penuh dan hampir jebol.itulah tempe, saya sangat gemar menikmati tempe goring yang diiris menjadi tipis dengan bmbu garam. Sederhana bukan? Sesederhana orang menganggap tempe sebagai konsumsi rakyat yang termarjinalkan.

Di jawa, kata tempe itu beragam, mulai dari tempe biasa yang berbahan baku kedelai yang warnanya kuning, tempe benguk yang berbahan baku benguk (semacam kedelai tapi lebih besar dan hitam warnanya), tempe bongkrek (tempe dari ampas kelapa dan ini mengandung jamur Rizhopus Orizae) hingga sebutan mental tempe bagi orang yang punya mental “sore dele, esuk tempe” (plin plan).

 Tempe dari waktu kewaktu mempunyai arti tersendiri. Mulai dari mengartikan kemiskinan, karena pada waktu dulu banyak kalangan bawah yang mengkonsumsi tempe bongkrek akhirnya mati, hingga arti psikologis (mental tempe). Namun tempe dalam masyarakat Indonesia belum pernah menyentuh kalangan elit KECUALI untuk akhir-akhir ini. Pemerintah mulai menyadari arti dari tempe ketika harga kedelai melonjak selangit. Seolah-olah tempe adalah lambang swasembada pangan dibawah beras. Ya memang kenyataanya seperti itu, kalau makan tanpa tempe rasanya seperti ada yang kurang. Tempe untuk tahun ini memberikan isu tersendiri kepada bangsa ini. Bangsa ini mesti mulai sadar arti sebuah kemandirian bangsa dalam hal mengelola bahan baku tempe, yaitu kedelai. Bangsa ini mempunyai banyak pengangguran, banyak wilayah, bagaimana bisa kedelai mesti impor dari china? America?? Rasanya bangsa ini hanya membutuhkan kemauan saja. Soal kemampuan jelas tidak diragukan.

Tempe, dulu kau dibenci dan dicaci.kini kami sadar, kau cukup berarti.