Perbincangan tentang Swadeshi


Sekarang hari Jumat Kliwon, tanggal 13. Ada kisah menarik hari ini, begini ceritanya.

 

Swadeshi

Swadeshi

Seperti minggu yang lalu, setiap 11.30 kantor pasti pada pergi ke masjid, Jumatan brroo.Dalam perjalanan sih seperti biasa, barang sama temen2 yang lain ,cekikikan ga jelas, dan pas nih pas, pas banget saya bareng sama seorang yang jauh senior diatas saya. Secara, agan atu ini selain senior juga loooww profile, and membumi, rendah diri tapi tetep mbois. Dalam perjalan ke masjid, kita melewati sebuah bangunan yang sepertinya mau dibangun showroom mobil baru.

“seperti ini yang bikin bangsa ini semakin tertinggal, bangsa ini dibikin konsumtif oleh negara lain, banjir import dimana mana. Mobil, pesawat, teknologi yang lain. Kita harus mencontoh India. India itu punya konsep SWADESI…”

“Indonesia juga punya konsep Berdikari pak” selaku

“Ya. Tapi selama ini kebijakan-kebijakan pemerintah selalu tidak pro rakyat, biarkan rakyat menderita dan belajar terlebih dahulu, sebelum menikmati, jangan rakyat dibikin senang dan happy tapi belakangnya Cuma bisa minta dan beli, tidak bisa membuat. Konsep SWADESI Malaysia ini mulai ditiru Malaysia.”

“Indonesia kalau masalah seperti itu memang sedang belajar pak, misalnya Daihatsu. Itu produk local pak” selaku

“Memang iya kalau dikatakan sebagai produk local, tapi kan tetap teknologinya Jepang yang punya, mungkin komponen-komponennya banyak yang berasal dari local, tapi mesin dan teknologinya pasti hasil riset dan pengembangan dari luar, kalau mmg dari Indonesia sendiri pasti negara ini sudah bisa membangun manufaktur kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan topografi khas Indonesia. Di Malaysia, tidak ada computer selain DE*L. Kenapa? Karena DE*L diproduksi di Malaysia. Pemerintah membuat regulasi yang jelas dan memihak kepada produk local, Di India juga seandainya ada project menggunakan produk 100% buatan luar semua ijinnya lama, susah mas. Harus ada local contain seperti seal atau positioner yang bikinan dalam negeri. Kalau nggak ada, susah ijin masuknya, lama.Harusnya Pemerintah Indonesia seperti itu, belajarlah mandiri jangan asal import saja. Jangan2 nanti tempe saja Import, hahaha..saya tak ke masjid dulu”

“oh iya pak, mari pak, saya makan dulu”

Perbincangan kami pun dipisahkan antara masjid dan tempe.

Ketika khutbah berlangsung, kenangan jauh melayang. Benar sekali Pak DI,(sebut saja nama bapak itu Pak DI), bangsa ini sepertinya salah setting. Style masyarakat dibuat manja, masih umur 13 tahun sudah diberi mobil, hanya berjarak 500 meter saja naik motor. Indonesia ini memang manja sekali. La haulla walaquwwata, wajar jika sekarang Malaysia bisa mengalahkan Indonesia dari segi ekonomi dan dari segi produksi Migas. Jika semakin terlena anak mudanya bisa jadi BRIC akan berkolaborasi dengan huruf M, bukan I. Malaysia, bukan Indonesia.

Bayangin ya, selepas berguru di Institut teknik, para generasi muda pada melamar kerjaan di Bank. Alasannya simple, kerja di Bank lebih banyak berinteraksi dengan bisnis and money, bonusnya banyak lagi. Sesampai kerja di Bank, doi nggarap dan nyari prospekan UMKM, wajar kalau negara ini industry kreatif dan UKMnya menjadi tulang punggung nasional, ditambah dengan konsumsi dalam negeri yang besar. Tanpa UKM dan konsumsi dalam negeri yang besar, rasanya angka 5,XX% untuk pertumbuhan negeri ini jauh api dari panggang kawan. Tp kembai lagi ke passion seseorang sih ya, mungkin dulu si doi milih jurusan Management tapi nyasar di Electro (ada nggak sih??) atau dulu milihnya kuliah di Sastra Jawa nyasarnya di T. Kimia. Memang sih bisa dikatakan sama-sama membangun bangsa, menjadi kebanggaan bangsa bersama, dan berkontribusi bersama, dan bisa juga menjalin hubungan yang lebih erat bersama-sama juga. Ahhhaaa…#gagalfokus

#kembalifokus Dari perbincangan sederhana tadi siang dengan Pak DI  *meskipun aku tidak terlalu berkontribusi J* sepulang dari kantor ternyata lampu kamar mandi mati. Dalam hati berkata “setan itu paling demen ditempat yang dingin, sepi gelap, dan lembab, mana lagi kalau bukan kamar mandi” WHATTTTT…langsung kucari peralatan untuk mengganti lampu, angkat2 kursi. Tidak ada orang yang dimintai tolong akhirnya jadilah kursi aku tumpuk dengan ember. Dengan perhitungan tekanan dan beban pastinya, bagaimana agar ember yang dinaiki tidak pecah dan roboh *cieeehhh*. Agak sedikit takut sih, soalnya waktu mau menyimpulkan naik dengan kursi beberapa menit melakukan JSA (Job safety analysis) sederhana, kira2 efek dan percentage near missnya berapa. Takut  And…………tara. Lampu bisa nyala kembali, dengan mengabaikan dan nekat menghadapi resiko tentunya.  

Kata Swadeshi merupakan turunan dari kata bahasa SanskertaSandhi. Bisa juga dimaknai sebagai penggabungan dari dua kata dalam bahasa Sanskerta, Swa yang berarti “diri” atau “mandiri” atau “sendiri” dan Desh yang berarti “negara”. Bila digabungkan, artinya menjadi “negara sendiri”. Sebagai kata sifat, Swadeshi dapat berarti “dari negara sendiri”.

Biarkan bangsa ini menderita tidak makan daging selama 1 bulan (toh sebentar lagi juga Iedul Qurban), jangan membuka kran import sebesar2nya dengan dalih rakyat menderita dan semakin bodo. Bukankah ketika SD Ibu guru pandai berpantun “bersakit-rakit kita kehulu, berenang kita ketepian, bersakit dahulu  bersenang kemudian”? Biar saja rakyat 2 bulan tidak makan tempe, toh sejatinya mereka akan makan tempe lagi kalau ladang kedelai mereka panen. Kapan bisa swadeshi kalau bangsa ini tidak mengandalkan otot sendiri untuk berdikari, Berdiri diatas kaki sendiri. begitu kan kata Soekarno? 

Ketika berada pada sebuah situasi mengambil kebijakan,hal yang paling beresikopun harus dilakukan dan kadang decision maker takut, khawatir dan was-was. Ketakutan paling besar adalah datang dari diri kita sendiri, dan ada perasan takut gagal, takut akan akibat atau takut menghadapi resiko2 yang timbul. Tapi ketika takut itu dilawan, You will get A glory.

Freedom is not worth having if it does not include the freedom to make mistakes. 

Demikian curhat akhir pekan kali ini, Selamat berakhir pekan dengan saudara dan keluarga,Burung parkit hinggap di gereja, Ternyata dia baru saja lepas dari sangkar. Akhir pekan tak pernah salah dan dusta, Jika kau isi dengan canda dan kelakar.🙂