General Election to Change


Puasa Ramadhan tampaknya tidak mempengaruhi manusia untuk saling mencela dan sibuk menilai orang lain (manut wudele dewe-dewe). 2 hari lagi Indonesia, negara yang mempunyai julukan zamrud khatulistiwa, negara exportir gas terbesar di dunia ini akan menyelenggarakan Pemilihan Presiden yang ke-11. Rasanya baru kemaren ya NKRI ini merdeka, ternyata sudah yang ke-11 saja. Warna-warni isu jelas menjadi sisi yang menarik diamati dan menjadi bahan gossip saat ronda malam, mulai dari money politics hingga corruption. Tahun lalu saya sudah mempunyai hak untuk memilih Presiden, dan sepertinya saya tidak salah pilih, meskipun memang pilihan saya ini tidak menjadi presiden. Untuk menentukan pilihan waktu itu cukup mudah, hanya dengan membaca beberapa artikel dari media elektronik dan sedikit analisa. Dibantu dengan kinerja presiden incumbent yang memang kurang cekatan. Naah.. Untuk Pemilu kali ini saya harus mencari informasi lebih dalam lagi karena dua calon memang dua-duanya calon yang baru.

Jika digambarkan dalam dunia pewayangan, dua tokoh calon presiden ini mirip dengan Adipati Karna dan Arjuna. Dua-duanya ksatria yang sangat peduli dengan rakyat jelata, yang membedakan adalah latar belakang keluarga. Adipati Karna lahir dari rahim Kunti dan diasuh oleh Adirata yang notabene adalah kawulo alit, dan Arjuna yang memang dilahirkan dari rahim yang sama dan dibesarkan dalam lingkungan Ksatria. Memiliki watak yang memang mirip dan kemampuan yang hampir sama, pandai memanah, titisan dewa, dan mempunyai laku prihatin yang sama-sama berat. Pada akhir cerita Karna Tanding,  Arjuna perang melawan Adipati Karna di laga Baratayhuda, Karna telah berjanji kepada Kunti untuk tidak akan membunuh Pandawa karena mereka adalah saudara seibunya kecuali Arjuna. Diceritakan bahwa perang berjalan alot, Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan, dan akhirnya Karna tewas oleh Pasupati. Tewasnya Karna bukan karena Karna kalah bakat memanah melainkan karena ulah Prabu Salya sang juru mudi. Dia sengaja memperosokan roda kereta mereka.

Kisah ini mengingatkan saya pada general election kali ini, baru-baru ini Mas J berhasil memimpin Jakarta dengan bantuan dari Mas P. Beberapa kali Mas P membujuk Bunda M untuk memberikan restu dan akhirnya restu itu diberikan ke Mas J. Jelas untuk menuju Jakarta-1 tidak gratis. Pengorbanan material dan spiritual banyak dicurahkan untuk pesta ini, termasuk dari Mad P. Maklum, Mas P adalah cucu dari pendiri Bank BNI. Eeee malah pada detik-detik pengumuman Capres, Mas J memutuskan melawan Mas P yang selama ini membantu mewujudkan menjadi Jakarta-1. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Mas P yang selama ini membantu Mas J? Ini mungkin yang membuat Mas P habis-habisan dan menurut saya terkesan berusaha untuk menang apapun caranya, agar dia bisa membuktikan ke Mas J kalau dia bisa dan lebih unggul. Akhirnya Mas P mengajak sebagian besar partai untuk koalisi, dengan segala kontrak politik tentunya.

Koalisi dari Mr. P menurut saya terlalu transaksional. sementara Koalisi yang dibangun Mas J koalisi kecil. Dalam sebuah perbincangan ringan saat berbuka puasa, saya menuturkan kalau saya secara pribadi tidak menyukai partai dibalik Mas J. Alasannya jelas, dia yang mengegolkan UU Outsourcing. Hal yang sama sekali bagi saya tidak bisa diterima dengan alasan apapun. SDM seolah-olah bukan sebagai aset yang berharga. Kenapa bukan Gerindra saja yang memajukan Mas P duet sama Mas J? Kan seru hanya akan ada 1 Capres. Hehehe..Saya berusaha menilai objective, selama ini Gerindra adalah partai yang mampu mengambil peran untuk Say No To Corruption dan itu terbukti. Sementara partai pendukung Mas J, U know laaaahhhhhhhhhh

Setelah melewati 10 Pemilu , masa menjadi pemilih yang oon terus nggak kan ya. Saya berusaha menjadi pemilih yang objective dan berusaha menjadi pemilih yang rasional. Maka dibuatlah sedikit coret-coretan seperti dibawah ini. Semacam TBE, Technical Bid for Election

TBE for General ElectionDari coretan diatas, point dari Joko dan Bowo beda tipis sih, selisih 3 point sodara-sodara. Point yang cukup mengkatrol Joko adalah sikap beliau dalam memberantas korupsi, semenjak terpilihnya menjadi Jakarta-1, saya menikmati kemajuan yang cukup signifikan, di Jalan Tamrin- Sudirman mulai diberi ruang untuk pejalan kaki, meskipun ini program pemerintah sebelumnya, namun dengan kehadiran angin baru Joko, program yang lama mangkrak ini cepat selesai. Memang simple, tapi itu menjadi point yang penting. Sementara Mas Bowo dikatrol oleh point konsistensi beliau dalam memberikan waktu dan tenaga beliau kepada Korpsnya, sikap tegas beliau, dan background Partai beliau yang memang terbukti tidak (belum) korupsi.  Yang bikin jeblok dari Jokowi adalah Partai pendukung beliau yang memang saya tidak suka (terserah saya dong, hehe). Sementara di kolomnya Mas Bowo adalah masalah human right. Human right menjadi isu penting karena bagaimanapun manusia dimuka bumi ini berada ingin diperlakukan secara sama, tanpa terkecuali. Di media-media mmg santer dibicarakan masalah pelanggaran yang dilakukan oleh Mas Bowo ini, terlebih jika membaca beberapa artikel tulisan Allan Nairn.

Trus apakah ini menyimpulkan bahwa besok 9 July 2014 saya pilih Mas Bowo?

Karena ini pilihan umum yang digelar hanya 5 tahun sekali, jelas TBE for President yang saya buat tidak sesimple itu. Jelas semakin banyak parameter yang nanti akan saya masukan dan akhirnya menyimpulkan siapa yang saya pilih, untuk siapanya hanya saya dan Tuhan yang tahu, dan orang-orang yang tanya secara langsung tentunya. Hehehe

Pemilu 2014 ini akan menjadi penentu kemana arah Blok Mahakam kedepan, berapa harga Gas Tangguh, Apakah penak jamanku mbien, bagimana penyelesaian kasus Century Gate, Hambalang Gate, bagaimana sikap pemerintah yang baru terhadap pemberantasan korupsi, dan masih banyak rantai

Selamat menempuh ibadah Ramadhan